SOP Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR) Satu Penolong & Dua Penolong Dewasa adalah standar operasional prosedur kerja aman baku dalam bidang keselamatan kerja teknis industri yang mengatur tata cara, parameter keselamatan kuantitatif, persyaratan verifikasi pra-kerja, dan mitigasi bahaya berdasarkan Permenaker No. 15 Tahun 2008 tentang P3K di Tempat Kerja & AHA Guidelines 2020/2025. Prosedur ini memandu tenaga kerja dan pengawas K3 dalam melaksanakan tahapan pemeriksaan respon korban dan aktivasi sistem darurat medis (Call for Help), pengecekan denyut nadi karotis dan napas simultan (maksimal 10 detik), kompresi dada kecepatan 100-120 kali/menit kedalaman 5-6 cm rasio 30:2, ventilasi buatan menggunakan pocket mask / bag-valve-mask, pemasangan dan pengoperasian Automated External Defibrillator (AED) guna mencegah terjadinya kecelakaan kerja fatal, kerusakan aset fasilitas, serta menjamin kepatuhan audit SMK3 PP No. 50 Tahun 2012.
Memerlukan arahan lebih lanjut mengenai SOP Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR) Satu Penolong & Dua Penolong Dewasa, rekomendasi pelatihan K3, atau pemenuhan regulasi di perusahaan Anda?
Kelengkapan Berkas Pendaftaran
Peralatan & APD Penolong P3K
- Pocket mask dengan filter satu arah atau Bag-Valve-Mask (BVM)
- Sarung tangan nitril / lateks medis sekali pakai (2 pasang)
- Unit Automated External Defibrillator (AED) portabel beserta pad elektroda dewasa
- Gunting medis pemotong pakaian darurat dan kassa penyeka keringat
Tahapan Verifikasi Tanda Vital & Siklus CPR
- Verifikasi 3A: Aman Diri, Aman Pasien, Aman Lingkungan
- Cek respon verbal dan nyeri (AVPU: Alert, Voice, Pain, Unresponsive)
- Cek pulsasi arteri karotis dan pergerakan dinding dada simultan < 10 detik
- Kompresi dada berkualitas tinggi (High-Quality CPR): recoil penuh, minimalkan interupsi
- Rotasi peran penolong kompresi setiap 2 menit (5 siklus) untuk mencegah kelelahan
Tujuan Operasional & Landasan Regulasi K3 Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR) Satu Penolong & Dua Penolong Dewasa
Penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) keselamatan Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR) Satu Penolong & Dua Penolong Dewasa bertujuan untuk memberikan panduan teknis yang terstruktur, sistematis, dan terukur bagi seluruh teknisi, operator, pengawas lapangan, serta personel keselamatan kerja. Ketiadaan instruksi kerja baku merupakan salah satu penyebab paling mendasar dari kegagalan operasional dan terjadinya kecelakaan fatal di lingkungan industri.
Landasan hukum utama pelaksanaan SOP ini mengacu secara ketat pada ketentuan Permenaker No. 15 Tahun 2008 tentang P3K di Tempat Kerja & AHA Guidelines 2020/2025 serta Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Regulasi tersebut mewajibkan pengurus tempat kerja menyediakan petunjuk pelaksanaan kerja yang aman serta memastikan seluruh tenaga kerja telah menerima pelatihan teknis yang memadai sebelum ditugaskan di lapangan.
Ruang lingkup dokumen ini mencakup seluruh aktivitas persiapan pra-pekerjaan, verifikasi kelayakan peralatan, pelaksanaan tahapan teknis inti di area operasional, hingga protokol penanganan anomali darurat guna mengeliminasi potensi bahaya sejak dini.
- Standar acuan hukum dan regulasi resmi: Permenaker No. 15 Tahun 2008 tentang P3K di Tempat Kerja & AHA Guidelines 2020/2025
- Tujuan utama: pencegahan kecelakaan fatal, perlindungan kesehatan kerja, dan keandalan operasional fasilitas
- Kewajiban penunjukan personel pelaksana yang kompeten dan memiliki pemahaman mendalam atas prosedur ini
- Integrasi lembar checklist keselamatan ke dalam Sistem Manajemen K3 (SMK3 PP 50/2012)
- Penetapan tanggung jawab pengawasan berjenjang antara teknisi pelaksana, supervisor, dan Ahli K3
Persiapan Pra-Kerja, Analisis Bahaya (JSA) & Alat Pelindung Diri (APD) Wajib
Tahap persiapan pra-kerja merupakan fondasi keselamatan paling krusial sebelum aktivitas operasional dimulai. Setiap tim kerja diwajibkan menyusun dan meninjau kembali dokumen Analisis Keselamatan Pekerjaan (Job Safety Analysis / JSA) guna mengidentifikasi potensi bahaya spesifik yang ada di lokasi kerja, baik bahaya yang melekat pada peralatan maupun bahaya dari lingkungan sekitarnya.
Sebelum pekerjaan dieksekusi, supervisor lapangan wajib memimpin pertemuan keselamatan singkat (Safety Toolbox Meeting / TBM) untuk memastikan seluruh personel memahami urutan kerja, batas wewenang, dan jalur evakuasi darurat. Izin Kerja Aman (Permit to Work) wajib diverifikasi dan ditandatangani oleh pejabat berwenang apabila pekerjaan melibatkan risiko tinggi.
Seluruh personel pelaksana wajib dilengkapi dengan Alat Pelindung Diri (APD) berstandar SNI/EN/ANSI yang sesuai dengan profil bahaya tugas ini. Pengawas K3 berhak menolak personel yang mengenakan APD rusak, tidak layak pakai, atau tidak sesuai spesifikasi teknis yang dipersyaratkan.
- Penyusunan dan peninjauan dokumen Job Safety Analysis (JSA) spesifik lokasi kerja
- Pemberian safety briefing harian (Toolbox Meeting) sebelum dimulainya shift kerja
- Verifikasi keabsahan Surat Izin Kerja Aman (Permit to Work) untuk pekerjaan berisiko tinggi
- Pemeriksaan kelengkapan APD wajib: helm keselamatan, kacamata pelindung, sepatu safety, dan APD khusus
- Pemeriksaan kondisi kesehatan fisik dan kesiapan mental (Fit to Work) seluruh personel yang bertugas
Tahapan Prosedur Kerja Teknis Standar (Langkah Demi Langkah)
Pelaksanaan pekerjaan wajib mengikuti urutan tahapan teknis baku yang telah divalidasi oleh tim rekayasa dan keselamatan kerja. Personel dilarang keras mengambil jalan pintas (shortcuts) atau mengabaikan salah satu langkah kerja yang telah ditetapkan dalam SOP ini.
Prosedur teknis inti yang wajib dijalankan secara berurutan mencakup: pemeriksaan respon korban dan aktivasi sistem darurat medis (Call for Help), pengecekan denyut nadi karotis dan napas simultan (maksimal 10 detik), kompresi dada kecepatan 100-120 kali/menit kedalaman 5-6 cm rasio 30:2, ventilasi buatan menggunakan pocket mask / bag-valve-mask, pemasangan dan pengoperasian Automated External Defibrillator (AED). Setiap tahapan memiliki parameter keberhasilan yang harus diverifikasi secara kuantitatif sebelum melangkah ke tahapan berikutnya.
Selama pekerjaan berlangsung, komunikasi dua arah yang jelas antara teknisi pelaksana dan pengawas keselamatan harus terus dipelihara. Apabila terdeteksi anomali bacaan instrumen atau perubahan kondisi lingkungan yang tidak aman, pekerjaan wajib ditunda sementara untuk dievaluasi ulang.
- Pelaksanaan tahapan kerja terstruktur: pemeriksaan respon korban dan aktivasi sistem darurat medis (Call for Help), pengecekan denyut nadi karotis dan napas simultan (maksimal 10 detik), kompresi dada kecepatan 100-120 kali/menit kedalaman 5-6 cm rasio 30:2, ventilasi buatan menggunakan pocket mask / bag-valve-mask, pemasangan dan pengoperasian Automated External Defibrillator (AED)
- Verifikasi nilai ambang batas keselamatan kuantitatif sebelum melanjutkan ke tahap operasional berikutnya
- Penggunaan peralatan bantu dan instrumen kerja yang telah terkalibrasi dan berstatus laik pakai
- Penerapan komunikasi kerja efektif menggunakan sistem konfirmasi ulang (three-way communication)
- Pencatatan data pengujian teknis secara aktual pada lembar formulir checklist operasional
Titik Kritis Bahaya, Kesalahan Umum & Protokol Penghentian Pekerjaan (Stop Work)
Identifikasi titik kritis bahaya (critical control points) memungkinkan personel memberikan perhatian khusus pada momen-momen paling rentan terjadinya insiden. Sebagian besar kecelakaan kerja terjadi akibat kelalaian pada titik kritis ini, seperti terburu-buru, kelelahan, atau pengabaian tanda peringatan alarm instrumen.
Kesalahan umum yang kerap ditemukan di lapangan mencakup ketidakdisiplinan dalam melakukan pengujian mandiri pra-pakai, penggunaan peralatan yang telah aus atau melampaui masa kedaluwarsa riksa uji, serta penanganan material yang tidak ergonomis. Seluruh penyimpangan ini wajib dicatat sebagai temuan ketidaksesuaian (non-conformance).
Setiap pekerja yang terlibat dalam aktivitas ini dibekali Wewenang Penghentian Pekerjaan (Stop Work Authority / SWA) mutlak. Apabila ditemukan kondisi bahaya yang mengancam keselamatan nyawa atau kegagalan sistem proteksi primer, pekerja berhak dan wajib menghentikan pekerjaan seketika tanpa takut mendapat sanksi dari pihak manapun.
- Identifikasi titik kritis kegagalan mekanikal, elektrikal, atau kesalahan prosedur manusia (human error)
- Pengendalian risiko tergelincir, tersengat, terjepit, terpapar uap berbahaya, atau terjatuh dari ketinggian
- Penerapan Wewenang Penghentian Pekerjaan (Stop Work Authority) seketika terdeteksi deviasi keselamatan
- Prosedur eskalasi pelaporan kondisi berbahaya kepada Pengawas K3 dan pimpinan fasilitas
- Larangan keras mengoperasikan peralatan yang telah diberi label tanda bahaya (Danger / Out of Service Tag)
Prosedur Tanggap Darurat, Pertolongan Pertama (P3K) & Pasca-Pekerjaan
Meskipun seluruh prosedur pencegahan telah dijalankan dengan ketat, kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat tetap menjadi kewajiban mutlak. Fasilitas kerja wajib menyediakan sarana tanggap darurat yang memadai di dekat area kerja, termasuk kotak P3K terstandar, alat pemadam api ringan (APAR), stasiun pencuci mata darurat, serta nomor kontak darurat tim medis dan regu penolong internal.
Apabila terjadi kecelakaan kerja atau anomali fatal selama pelaksanaan prosedur ini, personel terdekat harus segera membunyikan alarm darurat, mengamankan korban ke lokasi aman dengan tetap memperhatikan prinsip 3A (Aman Diri, Aman Pasien, Aman Lingkungan), serta memberikan pertolongan pertama sesuai batas kompetensi P3K sebelum tim medis profesional tiba di lokasi.
Setelah pekerjaan selesai dengan aman, tim kerja wajib melakukan pembersihan area kerja (housekeeping 5S/5R), mengembalikan peralatan kerja ke tempat penyimpanan yang bersih dan kering, membuang limbah operasional sesuai kategori limbah B3/non-B3, serta menutup dokumen izin kerja (Permit to Work Close-Out).
- Penetapan rute evakuasi darurat yang bebas hambatan menuju titik kumpul aman (assembly point)
- Ketersediaan sarana P3K berstandar Permenaker 15/2008 dan personel first aider terlatih di area kerja
- Prosedur penutupan izin kerja (permit close-out) dan pelaporan status penyelesaian pekerjaan kepada pengawas
- Pelaksanaan pembersihan dan penataan area kerja (housekeeping 5R: Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin)
- Pengarsipan rekaman formulir inspeksi teknis untuk pemenuhan audit berkala sistem manajemen K3
Program Pelatihan & Pendampingan Implementasi SOP di PT Kreasi Ultimate Berjaya
PT Kreasi Ultimate Berjaya mendampingi berbagai perusahaan manufaktur, konstruksi, pertambangan, dan fasilitas komersial di Indonesia dalam menyusun, merevisi, dan menguji Standard Operating Procedure (SOP) keselamatan kerja berbasis risiko.
Kami menyediakan program pelatihan kompetensi teknis bersertifikasi resmi Kemnaker RI dan BNSP, pembinaan pengawas K3 lapangan, serta simulasi praktik kerja aman menggunakan peralatan terstandar di Tempat Uji Kompetensi (TUK) kami.
Hubungi konsultan ahli kami untuk menyusun SOP keselamatan yang disesuaikan dengan kebutuhan fasilitas industri Anda atau mengikutsertakan personel Anda dalam program pelatihan K3 resmi.
FAQ Seputar SOP Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR) Satu Penolong & Dua Penolong Dewasa
Rujukan Regulasi & Verifikasi Resmi
Seluruh materi informasi disusun berdasarkan regulasi yang berlaku. Untuk keperluan audit dan kepatuhan hukum, Anda dapat memverifikasi naskah resmi pada instansi pemerintah terkait:


















